Resume komunikasi islam
RESUME
Buku Komunikasi Islam
Karya : Dr. Harjani Hefni. Lc, MA
BAB I
PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN
MANFAAT MEMPELAJARI KOMUNIASI ISLAM
Banyak
Orang berbicara tentang komunikasi dan mengaitkan kejadian baik dan buruk
dengannya. Jika kita bertanya kepada seseorang tentang faktor melejitnya karier
orang tertentu dalam waktu relatif cepat, hampir bisa dipastikan bahwa di
antara jawabannya adalah karena orang tersbut memiliki kecakapan dalam
berkomunikasi. Jika ada dua mahasiswa tidak bertegur sapa, setiap bertemu
dengan temannya selalu mengalihkan wajahnya dan membelakangi temannya, pasti
kita akan mengatakan bahwa hal itu terjadi karena kesalahan komunikasi.
Istilah
komunikasi berasalah dari bahasa Inggris communication. Di antara arti
komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi di antara
indvidu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda, atau tingkah
laku. Dalam bahasa Arab, Komunikasi sering menggunakan
istilah tawashul dan ittishal.
Kalau
merujuk kepada kata dasar ”washala” yang artinya
sampai, tawashul artinya adalah proses yang dilakukan oleh dua pihak
yang berkomunikasi. Adapun kata ittishalsecara bahasa lebih menekankan
pada aspek ketersambungan pesan, tidak harus terjadi komunikasi dua arah. Jika
salah satu pihak menyampaikan pesan dan oesan itu sampai dan tersambung dengan
pihak yang dimaksud, maka pada saat itu sudah terjadi komunikasi dalam
istilah ittishal.
Adapun
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunikasi diartikan sebagai
pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih
sehingga pesan yang dimaksud dapat di pahami. Dalam buku Sasa Djuarsa Sendjaja
yang berjudulPngantara Ilmu Komunikasi dijabarkan tujuh definisi yang
dapat mewakili sudut pandang dan konteks pengertian komunikasi. Definisi
tersebut adalah sebagai berikut
1. Komunikasi
adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus
(biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuna mengubah atau membentuk
perilaku orang-orang lain (khalayak).
2. Komunikasi
adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain
melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka,
dan lain-lain.
3. Komunikasi
pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa,
dengan saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? ( Who?
Syas What? In which Channel? To Whom? With what effect? ).
4. Komunikasi
adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari yang semula dimiliki oleh
seseorang ( monopoli seseorang ) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih.
5. Komunikasi
timbul didorong oleh kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak
secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego.
6. Komunikasi
adalah suatu proses yang menghubungakan satu bagian dengan bagian lainnya dalam
kehidupan.
7. Komunikasi
adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat mempengaruhi
pikiran orang lainnya.
Kata
Islam dalam buku al-Ta’rifat karya al-Jurjani diartikan sebagai
kerendahan dan ketundukan terhadap apa yang kabarkan oleh Rasulullah SAW. Abdul
Karim Zaidan dalam Ushul al-Dakwah memaparkan banyak sekali definisi tetang
islam. Di antara definisi Islam menurut beliau:
1. Islam
adalah bersyahadat bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad adaalah
Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan, dan
menunaikan ibadah haji, sebagaimana yang terdapat dalam hadis Jibril.
2. Definisi
kedua, Islam adalah kerendahan, penyerahan diri, dan ketundukan kepada Allah
Rabbul Alamin.
3. Definisi
ketiga, Islam adalah sistem umum dan peraturan lengkap tentang urusan
kehidupan, serta panduan meniti kehidupan dan segala konsekuensi dari
penerimaan atau penolakan terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW
dari Allah SWT.
4. Definisi
keempat, Islam adalah kumpulan seluruh nilai yang diturunkan Allah kepada Nabi
Muhammad SAW untuk disampaikan kepada seluruh manusia, baik hukum akidah,
akhlak, ibadah, muamalat, serta berita-berita yang disebutkan dalam Al-Qur’an
dan As-Sunnah.
5. Definisi
kelima, Islam adalah jawaban yang benar dan tepat untuk menjawab tiga
pertanyaan prinsip yang selalu menyibukkan akal manusia dan selalu muncul dalam
pikiran mereka sepanjang masa: dari mana kita berasal, untuk apa kita hadir di
muka bumi ini, dan ke mana tempat kembali? Untuk pertanyaan pertama, dari mana
kita berasal, Islam menjawab bahwa manusia berasal dari dari Allah yang
menciptakan manusia dari dua perpaduan utama yaitu jasad dan ruh. Tentang
pertanyaan kedua, apa tujuan hidup manusia di dunia ini, Islam menjawab bahwa
tujuan utama hidup manusia di muka bumi ini adalah untuk beribadah kepada Allah
SWT. Adapun jawaban pertanyaan ketiga, ke mana manusia akan kembali, Islam
menjawab bahwa setelah kehidupan dunia ada kehidupan abadi di akhirat, dan
manusia akan menempati salah satu dari dua tempat yang di sediakan untuk
mereka, yaitu surga buat yang beriman dan beramala saleh selama di dunia, dan
neraka untuk yang kufur dan melanggar aturan-aturan Allah.
6. Definisi
keenam, Islam adalah roh yang sebenarnya bagi manusia, cahaya dalam meniti
jalan, obat segala penyakit, dan jalan yang lurus yang akan memberikan
keselamatan bagi penggunanya.
Setelah
mengetahui definisi komunikasi dan definisi Islam, dapat diketahui secara jelas
bahwa yang dimaksud dengan komunikasi Islam adalah komunikasi yang di bangun di
atas prinsip-prinsip Islam yang memiliki roh kedamaian, keramahan, dan
keselamatan.
Objek
kajian ilmu komunikasi Islam terdiri dari tiga paket kajian yang tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan lainnya. Tiga paket kajian itu adalah komunikasi
manusia dengan Allah, komunikasi manusia dengan dirinya sendiri, dan komunikasi
manusia dengan yang lainnya. Tiga bentuk komunikasi ini merupakan warisan dari
ajaran agama secara universal.
Sebagai
salah satu sisi dalam kehidupan manusia, aktivitas komunikasi itu dikatakan
akademisi sebagai aktivitas vital dalam kehidupannya. Karena pentingnya
komunikasi tersebut, Islam yang mengusung prinsip “kafah” atau Komprehensif
dalam ajarannya tidak membiarkan umat yang meyakininya berkomunikasi tanpa
panduan.
Kehadiran
ilmu komunikasi Islam bertujuan untuk membimbing kaum Muslimin secara Khusus
dan Manusia secara umum agar mampu membangun komunikasi kepada pencipta mereka,
dengan diri sendiri, serta dengan sesama berdasarkan prinsip-prinsip Islam.
Dengan panduan agama, maka komunikasi akan berjalan sesuai dengan alur yang di
tentukan oleh Allah.
Komunikasi
yang terjalin dengan prinsip komunikasi Islam akan menghadirkan kedamaian dan
keselamatan, baik diri komunikan maupun untuk masyarakat secara umum. Jika umat
Islam melakukan komunikasi dengan niat ikhlas untuk menjalin silaturahmi dan
meningkatkan kualitas hubungan positif dengan sesama manusia, maka mereka tidak
hanya mendapatkan keuntungan dunia, tetapi juga akan mendapatkan pahala akhirat
BAB II
SUMBER ILMU KOMUNIKASI ISLAM
Sebagai
sebuah ilmu, komunikasi Islam memiliki sumber utama yang sangat potensial untuk
digali, yaitu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Meskipun tidak terkumpul dalam satu
tempat, tetapi bahan baku ilmu komunikasi Islam yang terdapat di banyak tempat
dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sangat memungkinkan untuk memformat ilmu komunikasi
Islam secara sistematis, sehingga menjadi ilmu yang mudah dimanfaatkan oleh
akademisi dan masyarakat secara umum.
Sumber
lain yang tidak kalah pentingnya dalam memformat ilmu komunikasi Islam adalah
ilmu komunikasi yang telah berkembang cukup lama dan sudah semakin menunjukkan
kemapanannya. Ilmu komunikasi umum ini sangat membantu upaya untuk memformat
ilmu komunikasi Islam karena kaum muslimin diajarkan untuk terbuka menerima
kebenaran dari sumber manapun datangnya.
1. Al-Qur’an
Definisi
Al-Qur’an
Al-Qur’an
ditinjau dari segi etimologis merupakan bentuk mashdar dari
kataqara’a – yaqra’u – qira’atan – wa qura’anan.
Kata qara’a berarti menghimpun dan menyatukan. Jadi menurut bahasa,
Al-Qur’an adalah himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang menjadikan satu ayat,
himpunan ayat-ayat menjadi surat, himpunan surat menjadi mushaf Al-Qur’an. Di
samping bermakna menghimpun, Al-Qur’an dengan akar kataqara’a, bermakna tilawah
atau membaca. Jika dua makna bahasa ini dipadukan, maka Al-Qur’an artinya
adalah himpunan huruf-hurf dan kata-kata yang dapat dibaca. Makna Al-Qur’an
seperti ini diisyaratkan oleh surat-surat dalam Al-Qur’an yang dimulai dengan
huruf-huruf yang terpenggal-penggal seperti alif lam-mim, alif-lam-ra,
kaf-ha-ya-‘ain-shad, dan sebagainya.
Ketika
menjadi terminologi untuk kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, maka
Al-Qur’an didefinisikan sebagai firman Allah SWT yang menjadi mukjizat abadi
kepada Rasulullah yang tidak mungkin bisa ditandingi oleh manusia, diturunkan
kepada Rasulullah SAW yang tertulis dalam mushaf, diturunkan ke generasi
berikutnya secara mutawatir, ketika dibaca bernilai ibadah dan berpahala besar.
Definisi
di atas mengandung lima makna penting:
1. Al-Qur’an
adalah firman Allah SWT (QS. An-Najm (53): 4) Yang Maha Mulia dan Maha Agung.
Kedudukan firman-Nya yang mulia dan agung menjadikan kita harus
memperlakukannya dengan mulia juga. Karena, Al-Qur’an adalah firman yang Allah
yang mulia, maka menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber rujukan utama komunikasi
islam akan membuat ilmu ini menjadi ilmu yang mulia.
2. Al-Qur’an
adalah mukjizat, tidak ada kata dan bacaan yang mampu menandinginya. Menjadikan
Al-Qur’an sebagai sumber ilmu komunikasi Islam akan membuat teori-teori ilmu
ini menjadi kukuh.
3. Al-Qur’an
itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu ke dalam hatinya melalui
malaikat Jibril a.s. (QS. 26: 192). Allah memilih hati Nabi Muhammad karena
dianggap yang paling layak untuk ditempati Al-Qur’an yang suci.
4. Al-Qur’an
disampaikan secara mutawatir. Al-Qur’an dihafal dan ditulis oleh banyak sahabat
sehingga mustahil terjadi persekongkolan adanya penambahan atau pengurangan
dalam teksnya. Lalu, secara turun-temurun Al-Qur’an itu diajarkan kepada
generasi berikutnya, dari orang banyak ke orang banyak.
5. Membaca
Al-Qur’an bernilai ibadah, bahkan setiap huruf diganjar oleh Allah dengan
sepuluh kebaikan.
Sebagai
sumber yang autentik dan isinya yang mengandung mukjizat, maka Al-qur’an adalah
kitab yang paling layak untuk menjadi sumber utama ilmu komunikasi Islam dan
sangat potensial memberikan kontribusi positif dalam perkembangan ilmu
komunikasi secara umum.
2. As-Sunnah
Selain
Al-Qur’an, kita juga dianugerahi panduan teknis bagaimana melaksanakan panduan
umum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Panduan teknis itulah yang disebut dengan
As-Sunnah. Ulama hadis sepakat bahwa arti dasar kata as-Sunnah yang berkaitan
erat dengan hadis berkisar pada dua makna berikut:
1. Al-Sirah
au al-Thariqah, Hasanah am Sayyinah. Sirah dan thariqah yang
berarti jalan kehidupan atau metode, yang baik ataupun yang buruk.
2. Al-thariqah
al-mahmudah al-mustaqimah Al-thariqah al-mahmudah al-mustaqimah, yaitu jalan
kehidupan atau metode yang lurus dan terpuji.
Pada
dasarnya, kedua makna ini sama, tidak ada perbedaan yang signifikan, hanya
berbeda dari sudut pandang. Makna pertama adalah makna umum yang mencakup
segala bentuk jalan kehidupan. Cara/metode yang baik ataupun yang buruk. Adapun
makna kedua memiliki pengkhususan hanya pada hal-hal yang bersifat baik dan
terpuji saja.
Dalam
terminologi Muhadditsin As-Sunnah didefinisikan sebagi berikut:
“Sesuatu
yang didapat Dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan
sifat jasmani atau perilaku, serta sirah beliau sebelum atau sesudah diutus”.
Dengan
definisi tersebut para muhadditsin ingin memosisikan Rasulullah SAW
sebagai sosok yang harus diikuti dalam segala aspek kehidupannya. Tugas Rasul
paling utama adalah menyampaikan risalah Allah kepada manusia. Tugas ini
memiliki hubungan yang sangat erat dengan komunikasi.
3. Kitab-kita
Para Ulama
Selain
Al-Qur’an dan hadis, Ilmu pengetahuan Islam secara umum dan ilmu tentang akhlak
dan adab secara khusus sangat kaya dengan bahan yang bisa dikembangka untuk
memperkaya bangunan ilmu komunikasi Islam.
Di
antara kitab-kitab yang sangat bermanfaat utnuk dijadikan sumber dan referensi
adalah:
1. KitabIhya
Ulumuddin
Kitab
karya imam Abu Hamid al-Ghazali ini membahas banyak hal. Di antara bahasan yang
terkait dengan komunikasi Islam adalah tentang Afat
al-lisan (penyakit lisan).
2. Minhaj
al-Qashidin
Kitab
karya al-Maqdisi ini juga ada membahas tentang afat
al-lisan (penyakit lisan).
3. Riyadus
Shalihin
Kitab
karya Imam Nawawi ini memang membahas banyak masalah. Di antara bagian yang
sangat terkait dengan komunikasi adalah bab
tentnang al-shidq (kejujuran), Nasihat, memperbanyak jalan berbuat
kebaikan, dan lain-lain.
4. Kitab Afat
al-Lisan fi Dhau Al-Qur’an wa As-Sunnah, karya Said bin Ali bin Wahf
Al-Qahthani.
Kitab
ini membahas tentang gosip (ghibah) dan adu domba (namimah), tentang lisan yang
kotor, dan sebagainnya.
5. Adab
al lisan karya Abu Anas Majid al-Nabkani
Kitab
ini juga membahas etka manusia dalam menggunakan lidahnya. Bahasannya terdiri
dari bahasan tentang menjaga lisan dalam berbagai keadaan dan kondisi.
Kitab-kitab
yang peulis tampilkan di atas adalah sedikit dari sekian banyak kitab yang
membahas tentang bahan dasar ilmu komunikasi Islam, meskipun sebagian besarnya
masih belum fokus kepada komunikasi.
4. Ilmu
Komunikasi
Ilmu
komunikasi pada dasarnya mempunyai ciri yang sama dengan pengertian ilmu secara
umum. Yang membedakannya adalah objek kajiannya, di mana perhatian dan telaah
difokuskan pada peristiwa-peristiwa komunikasi antar manusia. Mengenai hal itu
Berger & Chafee (1987) menyatakan bahwa Ilmu komunikasi adalah suatu
pengamatan terhadap produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan
lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan digeneralisasikan
dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses, dan
pengaruh dari sitem-sistem tanda dan lambang.
Pengertian
di atas memberikan tiga pokok pikiran utama:
1. Objek
pengamatan yang menjadi fokus perhatian dalam ilmu komunikasi adalah produksi,
proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang dalam konteks
kehidupan manusia.
2. Ilmu
komunikasi bersifat ilmiah empiris (scientific) Dalam arti pokok-pokok pikiran
dalam ilmu komunikasi (dalam bentuk teori-teori) harus berlaku umum.
3. Ilmu
komunikasi bertujuan menjelaskan fenomena sosial yang berkaitan dengan
produksi, prose, dan pengaruh dari sistem tanda dan lambang.
Sehingga
secara umum ilmu komunikasi adalah pengetahuan tentang peristiwa komunikasi
yang diperoleh melalui suatu penelitian tentang sistem, proses dan pengaruhnya
yang dapat dilakukan secara rasional dan sistematis, serta kebeneraannya dapat
diuji dan digeneralisasikan.
BAB III
BEBERAPA KONSEP DASAR KOMUNIKASI
ISLAM
Ilmu
komunikasi pada hakikatnya adalah ilmu tentang mengirim dan menerima pesan,
baik dengan lisan, tulisan maupun dengan anggota tubuh. Manusia patut bersyukur
kepada Allah Yang Mencipta karena seluruh komponen pengirim dan penerima pesan
disediakan secara gratis dan siap difungsikan sesaat setelah kita dilahirkan
bahkan sebelum dilahirkan.
Setelah
unsur jasad dan roh berpadu dalam diri kita di hari ke-120, manusia
kecil yang sedang tumbuh dalam rahim ibunya itu sudah mulai mampu berkomunikasi
dengan alam di luar rahim. Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa alat komunikasi yang
paling pertama berfungsi pada manusia adalah pendengaran, setelah itu
penglihatan, dan barufu’ad.
Setelah
lahir, bayi menambah kosakatanya dengan perantara pandangan. Dia selalu
penasaran melihat objek yang baru, lalu bertanya kepada orang yang terdekat
dengannya apa nama objek tersebut. Semakin banyak objek yang dilihat semakin
bertambah kosakatanya dan semakin lancar dia membangun komunikasi dengan ibu,
bapak, dan orang-orang di sekitarnya. Tetapi semakin sedikit yang dia lihat dan
dengar, maka semakin kecil juga peluang dia untuk menambah kosakata dan semakin
sulit dia untuk berkomunikasi dan mengungkapkan keinginannya kepada pihak lain.
Berikut
ini beberapa pandangan umum tentang komunikasi islam:
1. Komunikasi
Ada Sejak Manusia Ada
2. Komunikasi
Terkait dengan Pandangan Islam
3. Komunikasi
Adalah Kebutuhan Dasar Hidup Manusia
4. Komunikasi
Adalah Wujud dari Kasih Sayang Allah Terhadap Manusia
5. Komunikasi
Bertujuan untuk Saling Mengenal Antar Manusia Buat Mewujudkan Semangat Takwa
6. Komunikasi
Bertujuan untuk Menebar Semangat Silm (Kedamaian dan Kenyamanan)
7. Komunikasi
Adalah Paket
8. Komunikasi
Memilik Efek Dunia dan Akhirat
BAB IV
ISTILAH-ISTILAH KOMUNIKASI DALAM
AL-QUR’AN DAN HADIS
Dalam
Al-Qur’an dan Hadis ditemukan cukup banyak istilah-istilah yang terkait dengan
Ilmu Komunikasi. Di antara istilah-istilah tersebut adalah lafadz, qaul, kalam,nuthq, naba’, khabar, hiwar, jidal, bayan, tadzkir, tabsyir, indzar, tahridh, wa’adz,dakwah, ta’aruf, tawashi, tabligh,
dan irsyad. Makna dari masing-masing kata di atas akan dijelaskan pada
saat pembahasan tentang istilah tersebut di dalam bab ini.
Setelah
mengumpulkan kata-kata yang memiliki makna yang terkait dengan komunikasi,
penulis mengelompokkan kata-kata tersebut dalam empat kategori. Empat kategori
itu adalah: pertama, jenis pesan; kedua, kekuatan
pesan; ketiga, metode menyampaikan pesan, dan keempat, manfaat
pesan.
A. JENIS
PESAN
Pesan
adalah seperangkat lambang bermakna yang disampaikan oleh komunikator. Deddy
Mulyana mengatakan bahwa pesan adalah sperangkat simbol verbal atau non verbal
yang mewakili perasaan, nilai gagasan atau maksud sumber tadi. Adapun
dalamKamus Besar Bahasa Indonesia, pesan diartikan sebagai amanat yang
disampaikan lewat orang lain, perintah atau nasihat yang tidak langsung atau
melalui perantara. Pesan yang dimaksud dalam ilmu komunikasi adalah definis
pesan yang disampaikan oleh Deddy Mulyana,
Berdasarka
definisi di atas, maka pesan terbagi dua: pesan verbal dan pesan nonverbal,
simbol bahasa verbal adalah kata, baik yang terucap maupun yang tertulis.
Adapun komunikasi nonverbal adalah pesan nonlinguistik yang diisyaratkan oleh
anggota tubuh untuk menunjukkan sikap dan penampilan.
1. Pesan
Verbal
a. Lafdz
Makna
asal dari kata ‘lafdz’ dalam bahasa Arab adalah melempar. Disebut ‘lafdz’,
karena bunyi yang kita keluarkan dari mulut ibarat bunyi atau simbol yang kita
lemparkan dari mulut kita.
b. Qaul
Dalam
bahasa Indonesia, ‘qaul’ diartikan kata. Kata “qaul” disebutkan 1.722 kali
dalam Al-Qur’an; 529 kali dalam bentuk qala, 92 kali dalam bentuk yaqulun, 332
kali dalam bentuk “qul”, 13 kali dalam bentuk qulu, 49 kali dalam bentuk qila,
52 kali dalam bentuk al-qaul, 12 kali dalam bentuk ‘qauluhum’ dan bentuk-bentuk
lainnya. Dalam Al-Qur’an ditemukan cukup banyak ayat yang menggunakan
istilah qaul. Secara umum qaul yang terdapat dalam Al-Qur’an bermakna
kalimat dan digandeng dengan sifat tertentu.Berikut ini
beberapa qaul yang di sebut dalam Al-Qur’an:
a) Qaulan
Ma’rufan
Ma’ruf
artinya kebaikan dunia maupun akhirat. Ungkapan ini disebutkan empat kali dalam
Al-Qur’an dengan menampilkan empat peristiwa yang berbeda-beda. Emapat ayat itu
adalah surah al-Baqarah ayat 235, surah an-nisa’ ayat 5,
surah an-Nisa’ ayat 8, dan surah al-Ahzab ayat 32.
b) Qaulan
Kariman
Qaulan
Kariman secara bahasa berarti perkataan yang mulia dan berharga. Ungkapan ini
diabadikan oleh Al-Qur’an pada surah al-Isra’ ayat 23.
c) Qaulan
Maysuran
Menurut
bahasa qaulan maysuran artinya adalah perkataan yang mudah.maysuran adalah isim
maf’ul dari yusr yang artinya mudah. Ungkapan ini terdapat dalam
surah al-Isra’ ayat 28.
d) Qaulan
Balighan
Ungkapan
qaulan Balighan secara bahasa berarti perkataan yang sampai kepada maksud,
berpengaruh dan berbekas pada jiwa. Ungkapan ini terdapat dalam Al-Qur’an
surah an-Nisa’ ayat 63.
e) Qaulan
Layyinan
Ungkapan
Qaulan layyinan secara bahasa berarti ungkapan yang lemah lembut.
Ungkapan ini terdapat dalam Al-Qur’an surah Thaha ayat 44.
f) Qaulan
Sadiddan
Ungkapan
qaulan sadiddan menurut bahasa berarti perkataan yang benar. Ungkapan ini
terdapat di dua tempat dalam Al-Qur’an, yaitu di surah an-Nisa’ ayat
9 dan di surah al-Ahzab ayat 70.
g) Qaulan
Tsaqilan
Ungkapan
qaulan tsaqilan secara bahasa berarti perkataan yang berat. Ungkapan ini
disebutkan dalam Al-Qur’an surah al-Muzammzil ayat 5.
h) Qaulan
‘Adziman
Secara
bahasa qaulan ‘adziman artinya perkataan yang besar. Ungkapan ini disebutkan
oleh Allah SWT pada surah al-Isra’ ayat 40.
i) Ahsanu
Qaulan
Ungkapan
ahsanu qaulan secara bahasa berarti perkataan yang baik. Ungkapan ini terdapat
dalam surah Fushsilat ayat 33.
c. Kalimat
Kalimat
dalam bahasa Arab adalah senyawa dari dua unsur,
yaitu lafdz danifadah. Lafdz sudah disebutkan maknanya
dalam kajian sebelumnya, sedangkan ifadahartinya mengandung makna yang
sempurna. Jadi, kalimat adalah susuan lafdz yang mengandung makna
yang sempurna. Kata “kalimat” dalam Al-Qur’an tidak berdiri sendiri, tetapi di
gandeng dengan kata yang lain. Setidaknya ada tujuh tempat yang menyebutkan
kata “kalimat” yang sudah disandingkan dengan kata lainnya.
a) Kalimatullah
Kalimatullah
artinya adalah kalimat Allah. Istilah ini ditemukan dalam Al-Qur’an
surah at-Taubah ayat 40. Yang dimaksud kalimatullah adalah agama
Allah, hukum Allah, dan segala hal yang bersumber dari Allah baik itu perintah
maupun larangan. Al-Qur’an menyatakan bahwa Kalimatullah itu tinggi. Ibnu Abbas
mengatakan bahwa kalimatullah artinya adalah kalimat tauhid, la ilaha
illallah.
b) Kalimat
alladzina kafaru
Makna
Kalimat alladzina kafaru adalah kalimat orang-orang yang mengingkari kebenaran.
Ungkapan ini trdapat dalam surah at-Taubah ayat 40 sebagaimana yang
tersebut di atas.
c) Kalimatun
sawa’
Kalimatun
sawa’ secara bahasa artinya adalah kalimat yang sama. Imam Thabari mengatakan
bahwa kalimatun sawa’ adalah kalimat yang adil. Ungkapan ini terdapat dalam
surah Ali ‘Imran ayat 64.
d) Kalimat
al-kufr
Secara
bahasa, kalimat al-kufr artinya kalimat yang mengandung makna pengingkaran
terhadap kebenaran, atau mengandung unsur pelecehan terhadap nilai-nilai
kebenaran dan orang-orang yang membawa nilai kebenaran. Ungkapan ini disebutkan
dalam Al-Qur’an surah at-Taubahayat 74.
e) Kalimat
al-Taqwa
Menurut
bahasa kalimat taqwa artinya kalimat yang berfungsi melindungi. Ungkapan ini
disebutkan dalam Al-Qur’an surah al-Fath ayat 26.
f) Kalimat
al-Thayyibah
Secara
bahasa kalimat thayyibah berasal dari kata thaba yang artinya enak, bersih, dan
tumbuh. Ungkapan ini disebutkan dalam Al-Qur’an surahIbrahim ayat 24.
g) Kalimaat
al-Khabitsah
Secara
bahasa kalimat khabitsah artinya kalimat yang buruk, jelek, kotor, hina, rusak,
dan rendah. Ungkapan ini terdapat dalam surah Ibrahim ayat 26.
2. Pesan
NonVerbal
Selain
membahas tentang bahasa atau pesan verbal, Al-Qur’an juga kaya dengan informasi
tentang bahasa nonverbal. Di antara yang dibahasa oleh Al-Qur’an adalah makna
isyarat mata, wajah, tangan, kaki, gerakan tubuh, bibir, kepala, dan
seterusnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa isyarat tentang pesan nonverbal dalam
Al-Qur’an meliputi isyarat dari ujung kepala sampai ujung kaki.
B. KEKUATAN
PESAN
Pesan
yang dikirim oleh seseorang memilki pengaruh yang berbeda antara satu dengan
lain, baik pengaruh positif maupun negatif. Ada pesan yang memiliki kekuatan
serta berdampak luas, dan ada pesan yang biasa saja, tidak terlalu berdampak
besar, dan kadang-kadang dianggap oleh pendengar atau pembacanya seperti angi
lalu saja. Selain itu, secara substansi, ada pesan yang akurat dan yang
asal-asalan, ada yang benar dan ada yang dusta. Dalam kategori ini pesan tidak
selalu mengandung kebenaran.
Di
antara jenis pesan dalam Al-Qur’an yang memiliki pengaruh luas adalah pesan
yang disebut dengan istilah naba’, apakah berita itu benar atau salah.
Adapun pesan yang mengandung pengaruh yang biasa saja, mengandung kemungkinan
benar atas dusta, salah atau benar, yang kedua-duanya memungkinkan disebut
dengan khabar.
C. METODE
MENYAMPAIKAN PESAN
1. Hiwar
Hiwar
menurut bahasa artinya pembicaraan yang berlangsung di antara dua orang atau
lebih. Hiwar juga berarti bertukar pikiran dan saling mengoreksi dalam
pembicaraan. Adapun menurut istilah hiwar artinya pembicaraan yang
berlangsung di antara dua orang atau lebih yang bertujuan untuk menyampaikan
informasi atau meyakinkan orang lain dalam suasana tenang dan tidak panas.
2. Jidal
Jidal
menurut bahasa berarti memintal benang. Kata ini memberikan inspirasi bahwa
jidal adalah upaya untuk merajut pendapat-pendapat yang bersebrangan seperti
merajut benang-benang yang kusut. Asalnya digunakan untuk orang yang
bersebrangan dengan pendapat yang kita yakini agar kembali sesuai dengan yang
sebenarnya. Dalam jidal masing-masing pihak berusaha untuk meyakinkan dan
mengalahkan lawannya dengan kata-kata telak dan kadang-kadang bercampur dengan
suasana panas. Dalam bahasa Indonesia, jidal lebih dekat diartikan dengan
debat.
3. Bayan
Kata
bayan dalam berbagai jenisnya disebutkan banyak sekali dalam al-qur'an. Secara
bahasa bayan artinya adalah jelas atau terang. Adapun menurut istilah bayan
berarti menjelaskan tujuan dengan pilihan kata yang paling tepat. Al-Jurjani
mengatakan bahwa bayan artinya menjelaskan maksud kepada orang yang mendengar.
4. Tadzkir
Tadzkir
berasal dari kata dzakara yang berarti mengingat. Ketika bangun katanya menjadi
dzakkara-tadzkir artinya berubah menjadi mengingatkan atau memberikan
peringatan.
5. Tabligh
Dasar
kata tabligh adalah balagha. Kata ini secara umum berarti selesai, berakhir
atau sampai, yang bisa digunakan untuk tempat, masa, atau sesuatu yang abstrak.
Seperti sampai di Pontianak, sampai usia 40 tahun, telah sampai maksudku adalah
beberapa contoh yang menunjukkan kata sampai atau “ballagha” bisa digunakan
untuk tempat, masa, atau sesuatu yang abstrak.
6. Tabsyir
Di
antara metode menyampaikan pesan adalah dengan tabsyir. Tebsyir berasal dari
kata busyra dan bisyarah yang artinya adalah bahagia dan gembira. Adapun kata
tabsyir artinya adalah menyampaikan kabar bahagia dan gembira. Adapun tabsyir
artinya adalah menyampaikan kabar bahagia dan gembira.
7. Indzar
Indzar
secara bahasa berarti menyampaikan pesan dengan cara mengingatkan yang
bertujuan untuk menumbuhkan rasa takut dan kehati-hatian, baik untuk diri
komunikator maupun komunikan. Indzar selalu terkait dengan mengingatkan orang
untuk tidak melakukan perbuatan yang merugikan mereka di masa depannya, baik di
dunia maupn di akhirat.
8. Ta’aruf
Ta'aruf
secara bahasa berasal dari kata 'arafa yang berarti tahu atau kena. Tahu atau
kenal disini artinya mengetahui dan mengenal sesuatu dengan tanda-tanda yang
membuatnya bisa membedakan antara satu dengan lainnya. Ketika bangun kata
berubah menjadi ta'aruf, maka kata ini bermakna saling mengetahui atau saling
mengenal tanda-tanda atau ciri-ciri orang, baik lewat nama, cara berbicara,
watak dan karakter, dan berbagai aspek lainnya. Saling mengenal adalah salah
satu tuntutan hidup manusia sebagai makhluk sosial.
9. Tawashi
Tawashi
berasal dari kata wasiat yang secara bahasa artinya bersambung. Seseorang
memberi wasiat artinya menyambungkan apa yang diinginkannya kepada orang lain.
Orang yang sudah dekat dengan ajalnya biasanya menyampaikan atau memberikan
wasiat kepada orang yang terdekat dengannya. Maksud mewasiatkan di sini adalah
menyambungkan dirinya yang akan meninggal dengan orang yang masih hidup, baik
dalam bentuk memberikan harta ataupun pesan-pesan yang berharga.
10. Nasihat
Nasihat
menurut bahasa artinya murni, jernih, bersih, tanpa noda. Menurut ibnu
al-Atsir, nasihat merupakan untaian kata yang diungkapkan buat orang yang
diberi nasihat dengan harapan orang yang diberi nasihat bertambah baik.
11. Irsyad
Irsyad
berasal dari rasyada, artinya mencari petunjuk ke jalan yang lurus lawan dari
kata sesat. Irsyad artinya proses membantu seseorang dalam mengatasi
permasalahan pribadinya dengan mengerahkan dirinya untuk mengatasi masalah
dirinya sendiri.
12. Wa’dz
atau mau’idzah
Al-Jurjani
mendefinisikan wa’d sebagai al-tadzkir bi al-khair fima yariqqu lahu al-qalb
(mengingatkan tentang kebaikan yang membuat hati menjadi lembut).
Wa’dz
atau mau’idzah adalah jenis komunikasi yang bertujuan untuk melunakkan hati
yang mendengarnya. Lunaknya hati refleksi pada linangan air mata, goncangan
dada saat mendengarkan pesan, dan munculnya tekad untuk berubah.
13. Idkhal
al-Surur
Di
antara perintah Islam terhadap umatnya adalah perintah membahagiakan orang
lain, baik dengan kata maupun perbuatan. Membahagiakan orang lain dalam istilah
Rasulullah SAW disebut idkhal al-Surur.
BAB IV
FUNGSI-FUNGSI KOMUNIKASI ISLAM
1. Fungsi
Informasi
2. Fungsi
Meyakinkan
3. Fungsi
Mengingatkan
4. Fungsi
Memotivasi
5. Fungsi
Sosialisasi
6. Fungsi
Bimbingan
7. Fungsi
Kepuasan Spiritual
8. Fungsi
hiburan
BAB V
BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI ISLAM
Objek
kajian ilmu komunikasi Islam terdiri dar tiga bentuk Komunikasi yang tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan lainnya. Tiga bentuk komunikasi itu adalah
komunikasi manusia dengan allah, komunikasi manusia dengan dirinya sendiri, dan
komunikasi manusia dengan yang lainnya.
Komunikasi
Ilahiah
Pola
Komunikasi Manusia dan Penciptanya
Pola
Komunikasi dengan Manusia Biasa
KOMUNIKASI
INTRAPERSONA
Komunikasi
intrapribadi adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang. Dalam
komunikasi bentuk ini, orang yang berperan sebagai komunikator sekaligus berperan
sebagai komunikan. Dia berbicara kepada dirinya sendiri, dia berdialog dengan
dirinya sendiri, dia bertanya kepada dirinya dan dijawab oleh dirinya sendiri.
Komunikasi
intrapersonal adalah proses komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang
saat menerima informasi, mengolahnya, menyimpannya, dan menghasilkannya
kembali. Proses pengolahan informasi berlangsung dalam empat langkah, yaitu:
sensasi, persepsi, memori, dan berpikir.
BAB VI
KOMUNIKASI ANTAR MANUSIA
Selain
berbicara dengan penciptanya dan berbicara dengan dirinya sendiri, manusia juga
melakukan komunikasi dengan sesama manusia. Komunikasi dengan sesama inilah
yang menjadi perhatian utama ilmu komunikasi secara umum.
Komunikasi
dengan sesama manusia minimal memiliki tiga bentuk: pertama,komunikasi
antarpersona atau antar pribadi; kedua, komunikasi
kelompok; ketiga,komunikasi massa.
Di
dalam islam, istilah komunikasi dengan sesama manusia disebut hablun
munannas, ta’aruf, dan muamalah
1. Komunikasi
Antarpersona (Komunikasi Antarpribadi)
2. Komunikasi
Kelompok
3. Komunikasi
Massa
BAB VII
PRINSIP-PRINSIP DASAR ILMU
KOMUNIKASI ISLAM
1. Prinsip
Ikhlas
2. Prinsip
Pahala dan Dosa
3. Prinsip
Kejujuran
4. Prinsip
Kebersihan
5. Berkata
Positif
6. Prinsip
Paket (Hati, Lisan, dan Perbuatan)
7. Prinsip
Dua Telinga Satu Mulut
8. Prinsip
Pengawasan
9. Prinsip
Selektivitas dan Validitas
10. Prinsip
Saling Memengaruhi
11. Prinsip
keseimbangan berita (keadilan)
12. Prinsip
Privasi
DAFTAR PUSTAKA
Hefni, Harjani, 2014. Komunikasi Islam , Pontianak
: IAIN Pontianak Press.
Komentar
Posting Komentar